Selama 16 tahun hidup, tentu saja saya
pernah menglami sedih, susah, senang, marah dan galau. Semua perasaan itu,
biasanya saya curahkan ke dalam sebuah puisi maupun cerpen. 16 tahun bukan
waktu yang singkat, sehingga saya udah menciptakan puluhan bahkan ratusan cerpen *Sombong dikit*. Namun
hanya ada 2 cerpen yang sangat berkesan dalam hidup saya. Yang pertama adalah
cerpen saya yang berjudul “Kemenangan di balik Cermin”, karena ini adalah
cerpen pertama saya yang dimuat di majalah. Haha
Dan yang kedua ini, saya suka karena..karena...karena saya
memang suka.titik. hehe . dan itu adalah......
PERMINTAAN
BUKU HARIAN
Jemari Naya terus mengusap sebuah foto. Mutiara mata tiada henti
mengalir di pelupuk matanya. Matanya kosong tanpa pandangan. Pikirannya
melambung, mengingat memori-memori indah bersama Disa, gadis ceria yang
menyenangkan.
Kala itu langit tampak sangat tidak bersahabat, begitu gelap dan
penuh dengan sambaran petir. Naya dan Disa masih berada di sekolah. Naya masih
cemberut tidak terima nilai ulangan biologi Disa lebih baik darinya, padahal
Disa mencontek hasil kerja Naya. Disa mencoba menghibur sahabatnya itu dengan
mengubah wajah manisnya menjadi konyol, namun Naya tetap tidak tersenyum.
“Aneh. Biasanya cara ini
sangat ampuh untuk membuatmu tertawa sampai sakit perut.”
“Lelucon itu hanya dimainkan
anak SD! Dan kita sudah SMA!”, balas Naya dengan membentak.
“Ooh.. kalau begitu, apa yang dilakukan anak SMA untuk menghibur
temannya? Apakah seperti ini?”, kata
Disa sambil menggelitik perut Naya, lalu berlari mundur menghadap Naya.
“Ayo kejar aku!!”, teriak
Disa dari kejauhan, kakinya sudah menyentuh aspal.
Kemudian
Kemudian
Mobil
Decitan ban
Jeritan
JERITAN
Hening..
Naya terus menangis sepanjang jalan meuju rumah sakit. Tangannya
tak mau lepas dari Disa, dia terus berada di samping Disa. “Ini hanyalah mimpi yang gila! Bangunlah
Naya!! Ada apa denganmu?”, Naya berbicara dalam hati.
Tubuh Disa bersih tanpa luka dan darah, dia tampak seperti orang
tidur. Namun dokter berkata lain. Disa mengalami gegar otak dan lua dalam yang
serius. Disa bukan tampak seperti orang tidur. Tapi dia benar-benar tidur.
Tidur dalam keabadian. Nyawa Disa tidak bisa diselamatkan.
Setelah hari itu, Naya hanya menghabiskan waktunya di kamar
sambil memandangi foto-fotonya bersama Disa sejak TK hingga SMA. Tubuh Naya
semakin kurus karena jarang makan, tenggorokannya seperti terganjal duri hingga
sakit untuk menelan. Tampak bayangan hitam mengitari matanya yang bulat, karena
jarang tidur terus menangis. Naya pun tidak masuk sekolah selama seminggu ini.
Yang dilakukannya hanya melamun. Pandangannya menerawang jauh keluar jendela,
tiba-tiba dia berkata “Harusnya aku tidak memusuhimu. Harusnya aku merelakan
nilaimu lebih baik dariku, seperti biasanya. Harusnya, saat kau membuat wajah
konyol, aku tertawa dan kau menggandeng tanganku, lalu kita pulang bersama
dengan selamat. Harusnya.. harusnya.. ini semua tidak terjadi!!”. Tangisnya pun
pecah. Naya marah pada dirinya sendiri. dia merasa sangat bersalah.
Tiba-tiba pintu kamar Naya
terbuka. Ibu Naya muncul dengan membawa sarapan. Naya tidak menyadari kehadiran
Ibunya.
“Sarapan dulu Nay! Ibu membuatkanmu bubur ayam dengan banyak
bawang kesukaanmu. Ibu suapi ya?”
Naya hanya menoleh, lalu kembali dengan lamunannya. Ibu Naya
khawatir dengan keadaan Naya, diapun mengajak Naya jalan-jalan megelilingi
Bandung, lalu mampir ke rumah Disa untuk berkunjung. Ibunya menyebut ini dengan
jalan-jalan ala wanita, karena yang akan meeka lakukan adalah belanja.
Naya sangat tidak bersemangat. Saat Ibunya mengepaskan baju
untuknya, dia tampak tak peduli dan tetap dengan mata menerawang. Setelah puas mengelilingi
kota, Naya dan Ibunya mampir ke rumah Disa. Ibu Disa juga masih merasa
kehilangan yang mendalam, karena ditinggal anak sematawayangnya. Dia tampak
mengenakan pakaian serba hitam. Matanya pun masih basah, seperti habis
menangis. Tapi masih berusaha tersenyum di hadapan Naya dan Ibunya. Ibu Naya
dan Ibu Disa berbincang di ruang tamu. Naya dipersilahkan untuk beristirahat di
kamar Disa.
Saat memasuki kamar Disa, kesedihannya makin memuncak. Naya
menangis untukk kesekian kali. Dia memeluk boneka besar teddy berwarna biru
milik Disa, kado ulang tahun dari Naya untuk ulang tahun Disa ke-15. Naya
menemukan sebuah kotak seperti peti di samping ranjang. Di peti itu tertulis ‘Disa-Naya Happy Ever After’. Naya
membuka peti ituu dengan hti-hati. Ternyata, isinya adalah semua barang-barang
pemberian Naya yang ditata dengan rapi dan dirawat dengan teliti. Naya semakin
sedih, dia tak kuat lagi dan ingin segera pulang. Sebelum keluar dari kamar
Disa, dia menemukan sebuah buku harian kecil bersampul coklat dengan hiasan
ornamen kerang di sampulnya. Dia tidak pernah melihat barang itu sebelumnya.
Setahunya, buku harian Disa berwarna biru dengan sampul bermotif bunga anggrek
kesukaannya. Naya sangat penasaran dengan buku itu. Diam-diam, dia memasukkan
buku itu ke dalam tasnya lalu turun menuju ruang tamu untuk mengajak ibunya
pulang.
Sesampainya di rumah, Naya membaca semua isi dari buku harian
Disa. Naya semakin sedih, karena isinya menceritakan semua kebaikan Naya,
kekaguman disa pada Naya dan kenangan indah bersama Naya. Di halaman
terakhirnya, tertulis beberapa kalimat yang ditulis dengan besar dan tinta yang
menyolok.
“Aku dan naya adalah satu. Semua yang
kuinginkan dilakukan naya. Dan semua yang dia inginkan selalu aku lakukan. Aku
berharap untuk bisa selalu bersama naya, saat kita kuliah, bekerja, hingga
menikah. Jika nantinya aku meninggal, aku ingin naya ikut pula bersamaku dan
bahagia bersama di dalam surga. Begitu juga jika naya meninggal, aku akan
menyusulnya dengan cara apapun. Apapun!!”
Naya tercengang melihat
catatan itu. Naya merenung sejenak, setelah itu dia mengambil pinset dari laci
meja belajarnya. Dengan yakin, dia memotong nadinya sendiri hingga tak sadarkan
diri, setelah itu Naya meninggal. Dia benar-benar mewujudkan keinginan Disa
untuk menyusul kepergiannya dan bahagia bersama di dalam surga.

























