Baca Aja Deh

Senin, 25 Juni 2012


Selama 16 tahun hidup, tentu saja saya pernah menglami sedih, susah, senang, marah dan galau. Semua perasaan itu, biasanya saya curahkan ke dalam sebuah puisi maupun cerpen. 16 tahun bukan waktu yang singkat, sehingga saya udah menciptakan puluhan bahkan ratusan cerpen *Sombong dikit*. Namun hanya ada 2 cerpen yang sangat berkesan dalam hidup saya. Yang pertama adalah cerpen saya yang berjudul “Kemenangan di balik Cermin”, karena ini adalah cerpen pertama saya yang dimuat di majalah. Haha
Dan yang kedua ini, saya suka karena..karena...karena saya memang suka.titik. hehe  . dan itu adalah......

PERMINTAAN BUKU HARIAN



Jemari Naya terus mengusap sebuah foto. Mutiara mata tiada henti mengalir di pelupuk matanya. Matanya kosong tanpa pandangan. Pikirannya melambung, mengingat memori-memori indah bersama Disa, gadis ceria yang menyenangkan.
Kala itu langit tampak sangat tidak bersahabat, begitu gelap dan penuh dengan sambaran petir. Naya dan Disa masih berada di sekolah. Naya masih cemberut tidak terima nilai ulangan biologi Disa lebih baik darinya, padahal Disa mencontek hasil kerja Naya. Disa mencoba menghibur sahabatnya itu dengan mengubah wajah manisnya menjadi konyol, namun Naya tetap tidak tersenyum.
“Aneh. Biasanya cara ini sangat ampuh untuk membuatmu tertawa sampai sakit perut.”
“Lelucon itu hanya dimainkan anak SD! Dan kita sudah SMA!”, balas Naya dengan membentak.
“Ooh.. kalau begitu, apa yang dilakukan anak SMA untuk menghibur temannya? Apakah seperti  ini?”, kata Disa sambil menggelitik perut Naya, lalu berlari mundur menghadap Naya.
“Ayo kejar aku!!”, teriak Disa dari kejauhan, kakinya sudah menyentuh aspal.
Kemudian
Kemudian
Mobil
Decitan ban
Jeritan
JERITAN
Hening..

Naya terus menangis sepanjang jalan meuju rumah sakit. Tangannya tak mau lepas dari Disa, dia terus berada di samping Disa. “Ini hanyalah mimpi yang gila! Bangunlah Naya!! Ada apa denganmu?”, Naya berbicara dalam hati.
Tubuh Disa bersih tanpa luka dan darah, dia tampak seperti orang tidur. Namun dokter berkata lain. Disa mengalami gegar otak dan lua dalam yang serius. Disa bukan tampak seperti orang tidur. Tapi dia benar-benar tidur. Tidur dalam keabadian. Nyawa Disa tidak bisa diselamatkan.
Setelah hari itu, Naya hanya menghabiskan waktunya di kamar sambil memandangi foto-fotonya bersama Disa sejak TK hingga SMA. Tubuh Naya semakin kurus karena jarang makan, tenggorokannya seperti terganjal duri hingga sakit untuk menelan. Tampak bayangan hitam mengitari matanya yang bulat, karena jarang tidur terus menangis. Naya pun tidak masuk sekolah selama seminggu ini. Yang dilakukannya hanya melamun. Pandangannya menerawang jauh keluar jendela, tiba-tiba dia berkata “Harusnya aku tidak memusuhimu. Harusnya aku merelakan nilaimu lebih baik dariku, seperti biasanya. Harusnya, saat kau membuat wajah konyol, aku tertawa dan kau menggandeng tanganku, lalu kita pulang bersama dengan selamat. Harusnya.. harusnya.. ini semua tidak terjadi!!”. Tangisnya pun pecah. Naya marah pada dirinya sendiri. dia merasa sangat bersalah.
Tiba-tiba pintu kamar Naya terbuka. Ibu Naya muncul dengan membawa sarapan. Naya tidak menyadari kehadiran Ibunya.
“Sarapan dulu Nay! Ibu membuatkanmu bubur ayam dengan banyak bawang kesukaanmu. Ibu suapi ya?”
Naya hanya menoleh, lalu kembali dengan lamunannya. Ibu Naya khawatir dengan keadaan Naya, diapun mengajak Naya jalan-jalan megelilingi Bandung, lalu mampir ke rumah Disa untuk berkunjung. Ibunya menyebut ini dengan jalan-jalan ala wanita, karena yang akan meeka lakukan adalah belanja.
Naya sangat tidak bersemangat. Saat Ibunya mengepaskan baju untuknya, dia tampak tak peduli dan tetap dengan mata menerawang. Setelah puas mengelilingi kota, Naya dan Ibunya mampir ke rumah Disa. Ibu Disa juga masih merasa kehilangan yang mendalam, karena ditinggal anak sematawayangnya. Dia tampak mengenakan pakaian serba hitam. Matanya pun masih basah, seperti habis menangis. Tapi masih berusaha tersenyum di hadapan Naya dan Ibunya. Ibu Naya dan Ibu Disa berbincang di ruang tamu. Naya dipersilahkan untuk beristirahat di kamar Disa.
Saat memasuki kamar Disa, kesedihannya makin memuncak. Naya menangis untukk kesekian kali. Dia memeluk boneka besar teddy berwarna biru milik Disa, kado ulang tahun dari Naya untuk ulang tahun Disa ke-15. Naya menemukan sebuah kotak seperti peti di samping ranjang. Di peti itu tertulis ‘Disa-Naya Happy Ever After’. Naya membuka peti ituu dengan hti-hati. Ternyata, isinya adalah semua barang-barang pemberian Naya yang ditata dengan rapi dan dirawat dengan teliti. Naya semakin sedih, dia tak kuat lagi dan ingin segera pulang. Sebelum keluar dari kamar Disa, dia menemukan sebuah buku harian kecil bersampul coklat dengan hiasan ornamen kerang di sampulnya. Dia tidak pernah melihat barang itu sebelumnya. Setahunya, buku harian Disa berwarna biru dengan sampul bermotif bunga anggrek kesukaannya. Naya sangat penasaran dengan buku itu. Diam-diam, dia memasukkan buku itu ke dalam tasnya lalu turun menuju ruang tamu untuk mengajak ibunya pulang.
Sesampainya di rumah, Naya membaca semua isi dari buku harian Disa. Naya semakin sedih, karena isinya menceritakan semua kebaikan Naya, kekaguman disa pada Naya dan kenangan indah bersama Naya. Di halaman terakhirnya, tertulis beberapa kalimat yang ditulis dengan besar dan tinta yang menyolok.
“Aku dan naya adalah satu. Semua yang kuinginkan dilakukan naya. Dan semua yang dia inginkan selalu aku lakukan. Aku berharap untuk bisa selalu bersama naya, saat kita kuliah, bekerja, hingga menikah. Jika nantinya aku meninggal, aku ingin naya ikut pula bersamaku dan bahagia bersama di dalam surga. Begitu juga jika naya meninggal, aku akan menyusulnya dengan cara apapun. Apapun!!”
Naya tercengang melihat catatan itu. Naya merenung sejenak, setelah itu dia mengambil pinset dari laci meja belajarnya. Dengan yakin, dia memotong nadinya sendiri hingga tak sadarkan diri, setelah itu Naya meninggal. Dia benar-benar mewujudkan keinginan Disa untuk menyusul kepergiannya dan bahagia bersama di dalam surga.



0 komentar:

Posting Komentar

komentarnya dong :)